oleh

Aliansi Jurnalis Kombatan Gelar Diskusi Akhir Tahun

-Politik-262 views

Jakarta, PUBLIKASInews.com – Aliansi Jurnalis Kombatan (AJK) bersama Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan) menggelar diskusi akhir tahun, “Urgensi Presiden Jokowi Dua Periode” terkait dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik publik selama ini, “Sudahkah Nawacita dilakukan oleh Kabinet Kerja Jokowi -Jk?”.

Pertanyaan ini menjadi menarik bagi perjalanan Jokowi menuju Pilpres 2019 mendatang. Sebab pencanangan program kerja Nawacita yang selama ini didengungkan oleh Jokowi-Jk menjadi kerja-kerja yang harus dilakukan oleh para Menteri yang tergabung dalam Kabinet Kerja Jokowi-Jk yang nantinya dapat menjadi senjata bagi Jokowi.

Persoalannya adalah sejauh mana kehebatan Kabinet Kerja Jokowi menjalankan program-program Nawacita yang erat kaitannya sebagai jalan pemenangan bagi Jokowi untuk dapat memenangkan Pertarungan di Pilpres 2019?

Pengamat Ekonomi Politik, Ichsanuddin Noorsy mengatakan, persoalan Nawacita bisa diartikan bahwa Jokowi terselamatkan atau terjerambab dalam satu periode ini harus dilihat dari faktor Internal dan Eksternal yang berhubungan dengan ekonomi Nasional.

“Jika dilihat dari perjalanan 3 tahun 2 bulan 7 hari ini, maka yang kita lihat adalah dari Gini ratio bisa disimpulkan Jokowi tidak membuat prestasi. Ekonomi yang diterapkan Jokowi saat ini berada dalam posisi stagnan.” jelas Noorsy dalam diskusi yang digelar di DPN Kombatan, Rabu (27 Desember 2019).

Bahwa angka (pertumbuhan ekonomi) yang bergerak di Indonesia tak bisa dilepaskan dari pengaruh Internal dan eksternal.

Secara ekternal, menurut Noorsy, ekonomi Indonesia di bawah Jokowi tak bisa dilepaskan dari perang ekonomi Cina dan Amerika Serikat (AS). “(Dalam) perang itu, hingga hari ini menunjukkan Cina terus bertahan, bahkan sebagian kalangan mengatakan Cina akan menyalip AS. Hal itu bisa dilihat dari bagaimana hebatnya cina memanage cadangan devisa negaranya.” jelas Noorsy.

Menurut analisanya, seluruh negara kini di serang oleh model atau sistem ekonomi Cina melalui jalur sutra dunia “One Belt One Road (OBOR)” yang menitikberatkan pada 2 hal yaitu industri Infrastruktur dan semen yang terkait dengan Produk Cina dan Tenaga kerja. Seperti diketahui, masuknya tenaga kerja Cina juga terjadi di negara-negara yang menerima Investasi Cina.

OBOR vs One Road Goverment (Cina vs AS)

Gaya Cina menyerang dengan seluruh penetrasi Infrastruktur akhirnya juga dikuti oleh AS. Cina berhasil membuktikan, bahwa Prinsip Komunil mengungguli prinsip Individual meski mempunyai basis ekonomi yang sama yaitu “Ekonomi berbasis Materialistis”.

Persaingan ekonomi dunia kini di dominasi Cina dengan kekuatan yang menajam yang tak bisa dilepaskan dari kekuasaan geopolitik Cina atas dunia. Noorsy menegaskan, bagaimana Cina melakukan cara suap-menyuap di Australia dan negara-negara lainnya, merupakan cara Cina masuk ke dalam sistem ekonomi di negara lain.

Kendati demikian, Noorsy mengakui, Cina berhasil Meningkatkan harga komoditi sumber daya alam di dunia melalui pembangunan-pembangunan salah satunya adalah infrastruktur. Keberhasilan Cina turut mendorong komoditi dunia lainnya juga ikut naik termasuk komoditi sumber daya alam di Indonesia.

“Dalam hal inilah, kemudian Jokowi terselamatkan oleh naiknya harga komoditi Sumber Daya Alam dengan harga yang terus meningkat. Artinya, ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi di mata dunia telah terselamatkan,” jelas Ichsanuddin Noorsy.

Namun sayangnya tidak demikian dengan di Indonesia. Noorsy menjelaskan, Justru Jokowi bisa dikatakan Terjerambab. Sebab Sumber daya alam yang diinvestasikan oleh Asing dan sudah tentu dikuasai oleh Asing membuat Indonesia tidak berdaulat secara ekonomi.

“Artinya Pembangunan Infrastruktur dan hasil devisa negara dari SDA bukan milik Indonesia, tetapi milik asing.” ungkapnya. Secara tegas Noorsy mengatakan, Indonesia tidak berdaulat secara ekonomi di negerinya sendiri.

Dalam hal ini, tegas Noorsy, apa yang dilakukan Jokowi justru tidak sesuai dengan program Nawacita.

Hasil Survei Jokowi Tertinggi?

Berbeda pandangan dengan Ichsanuddin Noorsy, Dr. Emrus Sihombing, Pengamat Komunikasi Politik tidak setuju dengan pernyataan Noorsy, yang menjelaskan bagaimana Jokowi tidak sesuai dengan program Nawacita.

Meski begitu Emrus mengakui apa yang disampaikan Ichsanuddin Noorsy ada benarnya. Namun kritik saja tidaklah cukup, yang dibutuhkan Jokowi adalah Solusi

Menurut Emrus, dirinya yang sudah 3 tahun keliling Indonesia ke wilayah-wilayah terpencil, melihat bagaimana proyek pembangunan Infrastruktur itu sedang dalam proses pembangunan, jika dapat terwujud, maka hal itu akan menyelamatkan Jokowi dalam proses penentuan kemenangan dua periode nanti, tetapi jika Jokowi gagal mewujudkan itu, maka bisa diduga Jokowi akan terjerambab.

“Jika tidak berhasil, maka terjerambablah Jokowi,” kata Emrus.

Tetapi menurut Emrus, lembaga Survei menghasilkan data tak terbantahkan dengan hasil tertinggi, artinya dalam hal ini Jokowi sudah berada dalam posisi “Top Of Mine” di Masyarakat Indonesia.

Namun bukan berarti itu keamanan bagi Jokowi, dalam hal ini tingkat pemilihan belum sepenuhnya memilih Jokowi, jika dilihat dari seluruh hasil Servei menunjukkan adanya hasil eror atau tidak memilih sebesar 20 persen. Angka ini cukup besar memangkas suara Jokowi.

Lantas apakah Nawacita sudah terwujud? saya pikir presiden Jokowi sudah berupaya melakukan itu. Indonesia tak bisa dibandingkan dengan Singapura atau Jepang dengan daerah yang demikian luas.

“Tidak gampang bagi Joko Widodo membawa perahu ini untuk bisa berhasil.” jelasnya.

Emrus juga menuturkan, program Nawacita saat ini merupakan jalan terbaik yang sedang dilakukan pemerintahan Jokowi-Jk. Sehingga dibutuhkan waktu untuk penyempurnaan program-program Jokowi dalam Nawacita.

“Untuk menyempurnakan pembangunan infrastruktur, maka Jokowi harus bisa dua periode.” Kata dia. Dan seperti halnya Infrastruktur, belum bisa ditentukan dalam periode ini nawacita akan bisa sempurna di jalankan setelah dua periode kepemimpinan. (red)

Komentar

News Feed