oleh

Nilai Tukar Rupiah Mengalami Pengutan Selama Sepekan Terakir Tetap Tidak Bisa Kembali Ke level Rp. 13.000 Per Dolar

Jakarta, Publikasinews.com – Meski nilai tukar rupiah mengalami penguatan selama sepekan terakhir, lajunya tetap tidak bisa kembali ke level Rp 13.000-an per dolar AS. Pasalnya, kisaran nilai tukar Rp 14.200-14.500/US$ masih dinilai wajar dengan kondisi current account deficit (CAD) yang melebar seperti sekarang.

Hal ini disampaikan Senior Vice President Head of Economic & Research Finance and Corporate Service Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja. Menurutnya, serupa dengan perekonomian pada umumnya, pergerakan mata uang dipengaruhi faktor siklus dan faktor struktural.

“Secara struktur tidak akan bisa mengapresiasi, kecuali satu hal yaitu portfolionya terlalu kencang. Itu pun kalau tidak diintervensi, maka dia (rupiah) akan menguat,” kata Enrico di Jakarta, Rabu (19/12/2018).

Berkaca pada tahun sebelumnya, di tahun 2017 rupiah bergerak cukup stabil meski ada momen rupiah naik-turun. Itu saat CAD Indonesia masih 1,7% per gross domestic product (GDP) dengan posisi portfolio invetasi secara total melebihi total CAD. 

“Saat itu mungkin sekali rupiah mengapresiasi. Tapi tahun ini sudah tidak mungkin, bahkan yang terjadi depresiasi terlalu banyak,” ungkapnya. 

Bila pemerintah mampu menjadi rupiah di level saat ini Rp 14.380 (JISDOR) maka itu sudah sebuah pencapaian. Menurut Enrico, level tersebut sudah cukup menyesuaikan kondisi yang ada. 

Balik ke awal tahun, sebelumnya rupiah dibuka di level Rp 13.598/US$. Jika rupiah hendak kembali ke level tersebut dari level saat ini maka CAD harus sebesar 0%. Pasalnya, CAD yang dulu hanya 1,7% saat ini sudah dua kali lipat. 

“Dihitung dari Rp 13.500-an terdepresiasi 5,5% atau 6% sudah dapat angka itu (level rupiah saat ini). Jadi menurut saya itu wajar for the whole year,” imbuhnya. 

Tahun depan diharapkan rupiah bisa lebih stabil di angka Rp 14.000-an. Terutama apabila CAD menipis, rupiah seharusnya bisa lebih stabil lagi. Level Rp 14.000 per dolar AS sangat mungkin dicapai, tergantung arus dana asing yang masuk.

“Tapi mungkin tidak naik ke Rp 15.000/US$ lagi? Mungkin juga karena kita tidak tahu sentimen peran dagang atau The Fed dan lain-lain,” jelasnya. 

Untuk itu, menurut Enrico, semua ‘tangan’ harus siap sedia menghadapi ekonomi Indonesia tahun depan. Ia menyarankan agar rupiah mencapai kestabilannya dulu di tahun depan sebelum menargetkan pertumbuhan. 

Pemerintah perlu menekan gapp CAD untuk lebih terkontrol, kebijakan moneter harus tetap stabil agar perbedaan imbal hasil (yield) Indonesia tetap menarik ketimbang asing sehinggga tetap ada dana yang masuk. Kebijakan fiskal juga tetap harus diperketat agar supplai tidak terlalu berlebihan hingga menekan harga. Red

Komentar

News Feed